Dasar Penentuan Awal Bulan Hijriyah

Dasar Penentuan Awal Bulan Hijriyah

Dipublikasikan pada: 11 Oktober 2025 | 19 Robiul Tsani 1447 | 18 Bakda Mulud 1959 β€” pukul: 07:00 β€” oleh: Admin KalenderQu

Kalender Hijriyah adalah kalender lunar (berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi). Satu siklus bulan berlangsung sekitar 29,53 hari, sehingga setiap bulan Hijriyah terdiri dari 29 atau 30 hari.

Nama-Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah

Berikut ini nama-nama bulan dalam Kalender Hijriyah beserta jumlah harinya.

Nama Bulan Jumlah Hari
Muharram 30 hari
Shofar 29 hari
Robiul Awwal 30 hari
Robiul Tsani 29 hari
Jumadil Awwal 30 hari
Jumadil Akhir 29 hari
Rojab 30 hari
Sya'ban 29 hari
Romadlon 30 hari
Syawal 29 hari
Dzulqo'dah 30 hari
Dzulhijjah 29 hari

Awal bulan Hijriyah dimulai ketika:

πŸŒ’ Hilal pertama kali terlihat setelah ijtimak (konjungsi bulan–matahari).

Ijtimak adalah saat bulan dan matahari memiliki bujur langit yang sama (bulan berada di antara bumi dan matahari, dan bulan tidak tampak dari bumi).

Setelah ijtimak, jika bulan sudah terpisah cukup jauh dari matahari dan terlihat di atas ufuk saat matahari terbenam, maka malam itu dianggap tanggal 1 bulan baru Hijriyah.

Fase Bulan Saat Awal Bulan Hijriyah

Awal bulan Hijriyah ditandai oleh fase:

Bulan sabit muda (hilal) β€” bagian kecil bulan yang tipis dan terang di sisi barat langit setelah waktu maghrib.

Urutan fase bulan:

  • πŸŒ‘ Bulan baru (ijtima') β€” bulan sama sekali tidak terlihat.
  • πŸŒ’ Hilal (bulan sabit muda) β€” muncul tipis di ufuk barat saat matahari baru terbenam β†’ awal bulan Hijriyah.
  • πŸŒ“ Kuartir pertama (paruh kanan terlihat) β€” pertengahan awal bulan.
  • πŸŒ• Bulan purnama β€” pertengahan bulan (tanggal 14–15 Hijriyah).
  • πŸŒ— Kuartir akhir (paruh kiri terlihat) β€” akhir bulan menjelang fase baru lagi.
Fase Bulan

Fase Bulan

Dua Cara Penetapan Awal Bulan

Terdapat dua metode yang biasa digunakan di dunia Islam:

Rukyatul Hilal (Pengamatan langsung)

  • Dilakukan dengan mata atau alat optik untuk melihat hilal di ufuk barat saat matahari terbenam.
  • Jika hilal terlihat β†’ malam itu tanggal 1 bulan baru.
  • Jika tidak terlihat β†’ bulan lama digenapkan 30 hari.

Hisab (Perhitungan Astronomi)

  • Berdasarkan posisi geometris matahari dan bulan.
  • Jika saat maghrib bulan sudah berada di atas ufuk dan memenuhi kriteria tinggi & elongasi tertentu, maka ditetapkan bulan baru.

Indonesia biasanya memakai kombinasi hisab dan rukyat, seperti yang digunakan oleh Kementerian Agama RI.

Contoh Kasus

Misalnya, untuk menentukan 1 Ramadhan 1447 H:

  • Ijtimak terjadi pada tanggal 28 Februari 2026 pukul 17.30 WIB.
  • Saat matahari terbenam, posisi bulan sudah di atas ufuk barat dengan tinggi sekitar 3Β°.
  • Jika hilal berhasil dirukyat di beberapa lokasi Indonesia, maka malam itu ditetapkan sebagai awal Ramadhan 1447 H.

Kesimpulan

  • Awal bulan Hijriyah = ketika hilal (bulan sabit muda) terlihat setelah matahari terbenam.
  • Fase bulan = bulan sabit tipis (setelah fase gelap total).
  • Lama tiap bulan = 29 atau 30 hari, bergantung pada hasil rukyat atau hisab.
  • Metode penetapan berbeda antar negara dan lembaga, tapi dasarnya sama: pergerakan bulan.

Dalam penentuan kalender Hijriyah, KalenderQu menggunakan metode hisab (perhitungan astronomis) dengan mengambil titik koordinat paling barat wilayah Indonesia sebagai acuan. Asumsi yang digunakan adalah bahwa bulan akan terlihat lebih awal dari titik tersebut, sehingga ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk barat dengan ketinggian sekitar 3Β°, syarat penetapan awal bulan Hijriyah dianggap telah terpenuhi.

Pengaturan Cookie

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs ini. Cookie diperlukan untuk fungsi dasar situs. Anda dapat memilih untuk mengizinkan cookie analitik agar kami dapat mengukur dan meningkatkan layanan.